Jumat, 17 Maret 2023

DAHSYATNYA SHAFÃ (CINTA) DAN WAFÃ (KESETIAAN)



Sebuah kisah nyata ...

Sebelum Nabi Muhammad Saw. diangkat menjadi rasul, Abul Ash bin Rabi' menghadap beliau. “Saya ingin menikahi Zainab, putri sulung Anda”.

Sebuah contoh kesantunan dan tatakrama.

Nabi Muhammad Saw. menjawab, “Aku tak mau melakukannya sebelum meminta izin padanya.” Sesuai syariat yang nanti akan diwahyukan kepadanya.

Nabi Saw. menyampaikannya pada Zainab. “Anak pamanmu mendatangiku dan menyebut-nyebut namamu. Apakah engkau rela ia menjadi suamimu?”

Wajahnya memerah dan ia tersenyum. Malu-malu.

Nabi Saw. kemudian menikahkan Zainab dengan Abul Ash. Bermulalah dahsyatnya sebuah kisah cinta. Dari pernikahan berkah ini lahirlah Ali dan Umamah.

Tiba masanya muncul sebuah masalah baru. 

Yaitu, terkait diutusnya Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul Allah. Saat itu Abul Ash sedang bepergian beberapa saat lamanya. Ketika ia kembali, Zainab sudah memeluk Islam dan mengimani risalah yang dibawa ayahnya. Abul Ash pun mengetahuinya. 

Zainab berkata, “Aku punya sebuah berita besar untukmu.” 

Abul Ash berdiri, lalu meninggalkan Zainab. Zainab mengejarnya, kemudian ia berkata: “Ayahku diutus sebagai nabi dan aku telah memeluk Islam.”

Abul Ash menjawab, “Bagaimana sikapmu? Beritahu aku!”

Zainab menimpali, “Aku takkan mendustakan ayahku. Karena ia bukan pendusta. Ia adalah orang jujur dan sangat dipercaya. Bukan hanya aku yang berislam kepadanya. Ibuku dan saudara-saudaraku juga melakukannya. Ali bin Abi Thalib sepupumu juga beriman. Anak bibimu, Usman bin Affan juga memeluk Islam. Sahabatmu Abu Bakar juga menyatakan Islam."

"Kalau aku ...," kata Abul Ash. “aku tak mau nanti orang-orang mengatakan Abul Ash menghinakan kaumnya, kafir dengan nenek moyangnya demi istrinya. Ayahmu pasti akan tertuduh. Mohon maaf. Hargailah sikapku?" 

Sebuah dialog cinta yang jauh dari memperturutkan ego dan gengsi.

Zainab tersenyum, “Jika bukan aku, siapa lagi yang akan memaklumimu? Tapi suamiku, aku adalah istrimu. Aku ingin membantumu dalam kebaikan hingga engkau bisa memutuskannya dengan benar.”

Zainab membuktikan kata-katanya selama 20 tahun. Ia bersabar. Setia dengan cintanya. Setia dengan akidahnya. 

Abul Ash tetap berada dalam sikapnya. Hingga sampailah saat hijrah nabawi. Zainab menghadap ayahnya.

“Ya Rasulallah, mohon izin aku ingin menetap bersama suamiku.” Bukti cintanya yang sangat dalam. Dan Nabi Saw. mengizinkannya dengan penuh sayang.

Zainab menetap di Mekah. Saat terjadi Perang Badar, suaminya memutuskan bergabung berperang bersama pasukan Quraisy. Menarget Nabi Muhammad dan kaum muslimin. Suaminya memerangi ayahnya.

Bermalam-malam ia menangis dan merintih, tenggelam dalam duka. Ia panjatkan doa dan bermunajat penuh kepasrahan.

“Ya Allah ... aku takut jika setiap matahari terbit akan menerima kenyataan bahwa anakku menjadi yatim atau aku kehilangan ayahku ...”

Abul Ash bertempur masih dengan keyakinanya. Meski ia sendiri tak benar-benar yakin akan sikapnya. Usailah pertempuran Badar. Abul Ash tertawan. Beritanya sampai ke Mekah.

Dengan penuh cemas ia menanyakan tentang kabar ayahnya
“Kaum Muslimin menang,” ia mendapat kabar demikian. 
Ia bersujud pada Allah, mensyukuri karunia-Nya. Ia juga bertanya berita tentang suaminya.

Mereka menjawab, “Ia ditawan oleh mertuanya.” Ia bergegas ingin menebus suaminya. Ia kirimkan kalung perhiasan.
Ia tak punya apa-apa yang berharga selain perhiasan dari ibunya yang ia kenakan. Perhiasan yang selalu melekat di dadanya. Kalung itu kemudian dibawa saudara kandung Abul Ash menghadap Rasulullah Saw. 

Nabi Muhammad Saw. terhenyak ketika melihat kalung istrinya, Khadijah yang sangat dikenalnya.

“Tebusan siapa ini?”

“Tebusan Abul Ash bin Rabi.”

Ada tetesan air mengalir dari pelupuk mata beliau, seraya berbisik pelan, ”Ini adalah kalung Khadijah.” Sebuah ungkapan kesetiaan yang terpatri dalam hati. Tak luntur meski jasad pemiliknya sudah bertahun-tahun terpendam dalam tanah. Beliau kemudian berdiri dan berkata, “Wahai manusia … lelaki ini tidak aku cela sebagai menantu.” Sebuah narasi pengakuan dan sikap adil yang nyata.

"Mengapa kalian tak bebaskan ia dari tawanan? Mengapa kalian tak mengembalikan kalung tebusannya kepada Zainab?"

Para sahabat menjawab, “Labbaik, wahai Rasulullah” 

Kesantunan dan ketaatan tertulis dalam sejarah.

Nabi Saw. kemudian memberikan kalung tersebut kepada Abul Ash dan berkata, “Sampaikan kepada Zainab agar jangan mengabaikan kalung Ibunya, Khadijah.” Sebuah pesan cinta dan kesetiaan yang dahsyat.

Nabi Saw. berkata, “Wahai Abul Ash aku sampaikan sebuah rahasia,” kemudian Abul Ash mendekati Rasulullah Saw. 

“Wahai Abul Ash. Sesungguhnya Allah sudah memerintahkan kepadaku untuk memisahkan antara perempuan muslimah dan orang kafir. Maka, kembalikanlah putriku kepadaku!”

Dengan penuh penghormatan Abil Ash berkata, “Siap. Aku akan melakukannya!”

Zainab keluar rumah menuju gerbang kota Mekah hendak menyambut jantung hatinya. Sabar ia tunggu kedatangan suaminya. Abul Ash terlihat. Tak lama kemudian ia mendekat. Suaminya membisikinya. “Aku akan pergi”

“Ke mana?” pendar mata binar Zainab kembali meredup

“Bukan aku, tapi engkau yang pergi. Aku berjanji menyerahkanmu pada ayahmu!”

“Mengapa?”

“Untuk memisahkan antara aku dan dirimu. Kembalilah pada ayahmu!”

Abul Ash menepati janjinya.

“Mengapa engkau tak membersamaiku saja. Masuklah Islam.” Zainab membujuk penuh harap, penuh cinta.

Dan Abul Ash tetap pada pendiriannya. Zainab pun meninggalkan Mekah. Meninggalkan suaminya. Menaati perintah Allah dan ayahnya. Ia hijrah ke Madinah membawa anak-anaknya.

Sejak saat itu, selama enam tahun silih berganti para lelaki melamarnya. Namun, Zainab tak pernah berkenan menerima. Ia tetap setia menunggu cintanya yang tertinggal di Mekah. Bersama sekeping harap agar mantan suaminya datang menghadap ayahnya dan membersamainya kembali seperti sedia kala.

Setelah tahun-tahun sulit. Menjelang terjadinya Fathu Makkah, Abul Ash sebagaimana biasa ia melakukan perjalanan, berdagang ke negeri Syam. 

Dalam perjalanan pulang ke Mekah ia bersama kafilah dagang Quraisy membawa 100 ekor unta dengan 170 orang. Mereka terendus oleh pasukan mata-mata umat Islam. Mereka pun akhirnya ditawan. Namun, Abul Ash berhasil kabur, lenyap dan menghilang.

Abul Ash berlindung di balik kegelapan malam yang semakin gelap serta larut. Ia mengendap-endap memasuki kota Madinah. Bersembunyi beberapa saat.

Menjelang fajar ia semakin mendekat. Rumah Zainab yang ditujunya. Inilah tsiqah, sebuah kepercayaan.

Zainab bertanya, “Apakah Engkau datang dalam keadaan muslim?”

Abul Ash menjawab, “Bukan. Aku kabur!”

“Mengapa engkau tidak ber-Islam saja?”

“Tidak.”

Abul Ash meminta jaminan dan perlindungan. Zainab pun bersedia melindungi. Menjamin dirinya.

“Jangan takut, anak bibiku. Selamat datang wahai Abu Ali dan Abu Umamah,” Rasulullah Saw. berdiri di mihrab, mengimami kaum muslimin Shalat Fajar berjamaah. Beliau mengucapkan takbiratul ihram, para makmum di belakang beliau juga bertakbir. Saat itu dari shaf jamaah perempuan, Zainab mengangkat suaranya. Ia berkata, “Aku Zainab binti Muhammad, telah memberi jaminan kepada Abul Ash, maka lindungilah dia.”

Ketika selesai shalat, Nabi Muhammad Saw. menoleh kepada para jamaah dan bertanya, “Apakah kalian semua mendengar seperti yang aku dengar?”

Mereka menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.”

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Demi Dzat yang diriku ada dalam genggaman-Nya. Aku tidak tahu kecuali apa yang aku dengar, seperti yang kalian dengar. Sungguh orang yang paling lemah di antara kaum muslimin telah memberi perlindungan.”

Nabi Saw. berdiri menyeru, “Wahai para manusia. Sungguh terhadap lelaki ini sebagai menantu saya tidaklah mencelanya. Menantuku ini telah berbicara denganku dan ia membenarkanku, ia memberi janji dan ia menunaikan janjinya terhadapku.”

Penuh khidmat dan hening para sahabat Nabi Saw. mendengarkannya.

“Bila kalian setuju untuk mengembalikan hartanya dan membiarkannya pulang ke negerinya, maka ini lebih aku sukai. Tetapi bila kalian menolak, maka semua urusan kuserahkan kepada kalian, keputusan ada di tangan kalian. Saya takkan memprotesnya.”

Inilah musyawarah. Beliau tidak menggunakan otoritas kepemimpinannya.

“Kami bersedia menyerahkan kembali hartanya,” para sahabat menyetujui Rasulullah Saw., dan inilah adab dan kesantunan sebagai balasan keteladanan dan tawaduk pemimpin.

Lalu Nabi Saw. bersabda, “Wahai Zainab, kita telah memberi perlindungan kepada orang yang engkau beri perlindungan dan jaminan.”

Lalu Rasulullah membersamai putrinya ke rumahnya, “Wahai Zainab! Hormatilah Abul Ash. Dia itu putra bibimu, dia adalah ayah dari anak-anakmu. Tetapi jangan dekati dia, itu tidak halal bagimu.” Syariat dipraktikkan dan dipadu dengan akhlak mulia serta kasih sayang.

Zainab menganggukkan kepala, “Labbaik, wahai Rasulullah.”

Zainab menemui Abul Ash bin Rabi’ dan berkata, “Perceraian kita telah menyulitkan kita. Maukah engkau masuk Islam dan tinggal bersama kami?”

Harapan dan cinta menyatu, keluar dari bibir putri manusia termulia. Namun, Allah belum mengabulkannya.

Abul Ash mengambil hartanya dan pulang menuju Mekah. Sesampai di kota Mekah ia berkata kepada penduduk Mekah, “Wahai penduduk Mekah, terimalah harta kalian. Apakah masih ada yang kurang?"

Mereka menjawab, “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu. Engkau telah menunaikan amanah dengan sangat baik.”

Abul Ash berkata, "Aku sungguh bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya."

Bergegas, Ia pun pergi berhijrah menuju Madinah. Menjemput hidayahnya. Menyusun kembali kepingan cinta dan kesetiaannya.

Ketika waktu fajar, ia memasuki kota Madinah. Ia bergegas menghadap Nabi Saw., dia berkata, “Wahai Rasulullah, kemarin engkau memberi perlindungan kepadaku. Kini, saksikanlah aku datang dan bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.” Abul Ash melanjutkan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memberi izin kepadaku untuk kembali (ruju’) kepada Zainab?”

Nabi Saw. memegang pundak Abul Ash dan berkata, “Mari berjalan bersamaku.” 

Beliau ke rumah Zainab, mengetuk pintu dengan penuh bahagia, “Anakku, Zainab. Ini anak bibimu datang kepadaku. Dia meminta izin kepadaku untuk kembali kepadamu. Bersediakah engkau?”

Maka, nampak muka Zainab kemerahan seraya tersenyum. Malu-malu. Pertanda rela, ungkapan persetujuannya.
Seisi Madinah gegap gempita, menyambut bahagia. Merayakan pertemuan cinta dan kesetiaan. Langit cerah, seputih ketulusan cinta Zainab.

Namun, ini bukan akhir sebuah kisah....

Setahun kemudian, Zainab putri Rasulullah Saw. dipanggil oleh Allah. Ajalnya telah sampai. Isak tangis kesedihan Abul Ash terdengar. Menyayat siapa saja yang mendengarnya. Para sahabat menyaksikan Rasulullah Saw. mengusapnya. Turut merasakan kesedihan yang mendalam. Menerima takdir Allah dengan penuh keimanan.

Suara berat Abul Ash menyeruak, “Wahai Rasulullah aku tak mampu hidup tanpa Zainab.”

Dan benar, setahun kemudian ia menyusul kekasihnya. Menghadap Allah Swt.

Itulah kisah tentang cinta dan kesetiaan. Bersyukurlah, Allah telah karuniakan perempuan baik mendampingimu. Rawatlah cintanya. Ajaklah membangun istana cinta di dunia. Kelak Allah akan membalasmu dengan karunia cinta yang abadi, kesetiaan yang tak pernah luntur oleh masa. 

Sumber tulisan: 
1. Alhdeeth.com dan Al-Maktaba.com
2. Beberapa redaksi diambil dari At-Tarikh al-Islamiy karya Mahmud Syakir, Siyar a’lâm an-Nubalâ karya Imam al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabiy.
3. Hadits jaminan Zainab kepada Abul Ash juga diriwayatkan oleh ath-Thabraniy, al-Hakim dan al-Baihaqi dari riwayat Ummu Salamah r.a.

Rabu, 15 Februari 2023

Tentang Rasa

Bertemu denganmu adalah sebuah pelajaran berharga
Belajar tentang hidup tiada habisnya
Setiap detik rasa yang tertera
Selalu ada hikmah dibalik semua

Tentang sebuah ketulusan
Tulus mengabdi dan menghamba
Hingga detik ini berlalu
Sungguh belum mampu menyaingimu

Tentang kesabaran tanpa tapi
Kesyukuran tanpa tepi
Semua berlarut dalam satu cawan
Pemandangan rasa indah menawan

Kapanpun
Dimanapun
Bagaimanapun
dan dengan Siapapun kau berinteraksi
Sebuah pelajaran selalu dinanti
Entah kemarin, kini, esok, atau lusa
Pasti ada Hikmah Ilahiah tertera

Denganmu kami berilmu
dengan kasihmu kami berlaku

Tentang sebuah rasa
Tulus mengasihi
Sabar tanpa tepi
Syukut tanpa tapi

Selamat malam wahai Kekasih Ilahi
Semoga kebaikan selalu menyertaimu

Salam hangat,
dari murid kecilmu

Qudsia

Jumat, 27 Januari 2023

Jum'at, 27 Januari 2023

Permulaan cantik pada angka 27
kami mulai menulis lagi
setelah sekian lama tak bersua dengan goresan tinta

Besarnya rasa syukur kami takkan bisa dibandingkan dengan apapun
Ibarat buku pelajaran,
Andai kami membuka halaman demi halaman
Hingga akhur hayat takkan menemukan akhir dari diktat tersebut

Sebegi besarnya Sang Maha Cinta mengizinkan kami mencintaimu kawan...
Jika ada yang berkata,
Pertemuan dengan seseorang dalam hidup semuanya bermakna

Maka, dipertemukan denganmu adalah salah satu anugrah...
Sebuah pelajaran yang akan selesai dipelajari ketika nafas terakhir berhembus, mungkin.

Wahai Dzat yang Maha Segalanya...
doa kami padamu hanya satu..
Semoga kebaikan selalu menyertaimu,
dengan tanpa sebab tanpa akibat, melangitkan namamu setinggi-tingginya...

Maaf, jika selama ini terlalu dalam memasuki hidupmu...
Karena separuh Adab, adalah tidak ikut campur urusan orang lain...

Mau bagaimanapun lisan ingin melepaskan,
"dengan senyuman, kami berpamitan"
Namun dalam hati, takkan terlupa meski hanya sedetik...

Entah bagaimana kuatNya Sang Maha dalam memberi rasa,
di tiap kali hembusan nafas, disitu pula dirimu tak pernah terlepas...

Salam hangat dari saudarimu,
Selena

Sabtu, 24 Desember 2022

Sabtu, 24 Desember 2022

Untuk sebuah senyuman yang tersungging di wajahmu
kami rela memendam rindu tanpa batas waktu

Ya Rabb...
Engkau Maha Membolak-balikkan Hati
Kiranya diizinkan untuk tetap mencintainya
kami mohon untuk menyimpan rapih di lubuk yang terdalam

Meski tetesan air mata tak pernah alpa merindukannya ditiap malam
Biarkan kami mengemban rindu seiring berjalannya waktu

Jika selama ini semua hanya canda bagimu
Maka mohon maafkan
Karena kami menganggapnya terlalu serius...
Terlanjur melekat rasa
Hiasankan langit dengan satu nama

Seperti sebuah kenangan
Atau mungkin pengulangan
Dejavu yang dikatakan
Memilikimu adalah sebuah mimpi yang tak terlupakan
Seolah tak ingin bangun dari tidur panjang

Namun apalah daya
kami hanya manusia biasa
bukan sepertimu insan mulia
didapuk sebagai yang terpilih
diantara ratusan atau bahkan ribuan 

Percayalah,.
kami hadir sebagai bentuk pembelajaran bagimu
tak lebih dari itu
perjalananmu masih panjang
jika ditengah jalan ada hambatan
ingatlah,
kami selalu setia menunggumu...

Salam hangat,.
dari kami yang tak pernah alpa merindukamu

Jumat, 09 Desember 2022

Jum'at, 9 Desember 2022

Tau apa kau tentang cinta
Sampai mana ilmumu tentang kasih
Bahkan tak ada sama sekali

Mungkin muak jawabnya
Banyak sudah pengganti diluar sana
Lebih baik 
Bahkan jauh melebihimu dalam hal apapun
Bangkit dan tersenyumlah
Semua sudah tertera pada garisNya

Untuk Insan se-mulia dirimu
Tak lain dan tak bukan
Hanyalah seorang ternama yang akan berjodoh
Darah biru secara turunan
Bukan sembarang orang pastinya

Lantunan doa senantiasa teriring
Dimanapun, kapanpun, dan di keadaan bagaimanapun...
Sudah menjadi kebiasaan...
Seperti ada yang kurang jika sesaat pun tak mengingatmu...

Cukuplah rindu terpendam jauh dalam nurani terpanjang...
Tidak untuk diutarakan...
Karena sang empu sudah bosan dengan lika liku lakumu...
Karena tak ada pilihan untuk menjauh, kecuali dengan seizinmu...

Mengutip dari kalimat Bapak :
"yang membuatmu menangis lebih berhak diterima dan diikuti daripada yang membuatmu tertawa" *¹¹¹*

Terimakasih karena memposisikan kami selalu dalam keadaan khouf dan roja'

Salam,
dari kami yang selalu merindukanmu...


Jumat, 25 November 2022

Selamat Hari Guru

•┈┈••✾•◆◆❀◆◆•✾••┈┈• 

*HAKIKAT  SEORANG GURU*

*ليس شيخك من سمعت منه*

Gurumu yang sejati bukanlah Seseorang yang hanya engkau dengar (ceramah-ceramah) sebatas dari lisannya saja.

*وإنما شيخك من أخذت عنه*

Tetapi, Gurumu yang sejati adalah Seseorang yang menjadi tempatmu didalam mengambil hikmah dan akhlaq.

*وليس شيخك من واجهتك عبارته*

Bukan termasuk Gurumu yang sejati Seseorang yang hanya membimbingmu sekedar makna dari kata-kata.

*وإنما شيخك الذى سرت فيك إشارته*

Tetapi, orang yang disebut Gurumu yang sejati adalah Orang yang isyarat-isyaratnya mampu menyusup dalam sanubarimu.

*وليس شيخك من دعاك الى الباب*

Bukan termasuk Gurumu yang sejati seseorang yang hanya mengajakmu sampai kepintu.

*وإنما شيخك الذى رفع بينك وبينه الحجاب.*

Melainkan Gurumu yang sejati adalah Seseorang yang (bisa) menyingkap hijab (penutup) antara dirimu dan dirinya.

*وليس شيخك من واجهك مقاله*

Bukan termasuk gurumu yang sejati Seseorang yang  membimbingmu hanya dengan ucapannya.

*وإنما شيخك الذى نهض بك حاله*

Melainkan yang disebut Gurumu yang sejati adalah Seseorang yang aura kearifannya dapat membuat jiwamu bangkit dan bersemangat.

*شيخك هو الذى أخرجك من سجن الهوى و دخل بك على المولى.*

Gurumu yang sejati adalah yang membebaskan mu dari penjara hawa nafsu, lalu memasukan mu ke ruangan Tuhan mu 

*شيخك هو الذى مازال يجلو مرآة قلبك حتى تجلت فيها انوار ربك.*

Guru sejati bagimu adalah  Seseorang yang senantiasa menjernihkan cermin hatimu, sehingga cahaya Tuhanmu dapat bersinar terang di dalam hatimu.

Pembahasan lengkap nya di Kitab Al-Hikam Ibnu Athoillah al-Askandary.

*اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.*

Senin, 07 November 2022

Senin, 7 November 2022

Hai selasa,
Bagaimana kabarmu?
Sehat kah?
Maaf menyapamu hanya jika butuh...

Tenang saja
Masih sama dengan senin
Tetap belajar dan terus belajar
Berdamai dengan diri

Karena sepertinya, setan sedang merajalela...
Tak ada yang hendak ditulis sebenarnya
Namun dalam hati sedang berkecamuk
Ramai dalam sepi

Sejatinya, rencana Tuhan tak pernah meleset
Bahkan untuk membolak balikkan hati hambaNya sekalipun
Berusaha mencintai tanpa syarat tanpa harap, 
Kecuali kepada Sang Pemilih Cinta Kasih

Sulit,
Benarlah...
Tak ada ujian yang mudah
Jika ada pun, akan jadi lulusan yang tak mumpuni nantinya
Semoga dengan beratnya ujian yang ditempuh,
Seberat itu pula nilai yang akan Kau berikan kepada kami.

Kiranya sudah pernah diutarakan,
Maka kami akan mengulanginya sekali lagi...
Kelak ketika kau sudah menjadi Murid Shodiq yang sebenar benarnya
Bersyukurlah... 
Sungguh tiada yang dipilih olehNya kecuali mereka yang benar Laku Hatinya

Dan mungkin saat itu, kami akan mundur dan menghilang...
Karena kami sadar, tak pantas bersanding denganmu...
Maqom kami jauh dibawah, sedang engkau sudah berada di tingkat tertinggi.. Semoga..
Janji dari yang terdalam untuk tidak merepotkanmu dalam hal apapun...

Ada petuah mengatakan, 
Cintai seseorang sewajarnya,
Karena tiap orang bangun dengan perasaan yang berbeda...
Jika memang seperti itu adanya, 
Biarlah kami bangun dengan perasaan tetap seperti sedia kala..
Seperti awal mula pertemuan...

Bahagiamu adalah bahagiaku
Selama hayat masih dikandung badan
Selama nafas senantiasa berhembus
Dan setiap tetesan air mata
Maka, disetiap saat itulah iringan doa senantiasa mengitkan namamu...

Ya Rabb...
Kami titipkan salam kepada yang tersayang
Semoga hidupnya selalu dalam kebahagiaan

Salam Hangat,