Sabtu, 10 Juli 2021

🕌 PENGERTIAN BERTAREKAT 🕌💐



☁️💫 فاسلك ياأخي!  💫☁️

🕊️🕊️🕊️على يد شيخ عارف🕊️🕊️🕊
لتخرج من طبع الجهل إلى طبع العلم ومن طبع العلم إلى طبع المعلوم، حتى يحليك ويخليك ويقربك ويوصلك ويهنيك ويتركك وربّك،🌹🌾 

🌼 وماذلك على الله بعزيز 💐

(Bertarekat itu adalah dibimbing agar akhlaknya seperti Nabi Muhammad)🌹🌷 sebagaimana pesan Syaikh Buzaydi dalam kitab Al-Ādab al-Mardliyah li Salik Thariq al-Shūfiyah:

Bersuluklah saudaraku!❣️💗 Bersuluklah dibawah bimbingan syaikh yang 'Arif billah (mengenal Allah dengan baik), agar engkau dikeluarkan olehnya dari:
- zona kebodohan masuk ke zona ilmu, 
- di keluarkan dari zona ilmu masuk zona sumber ilmu, 

Kemudian
- hatimu akan dikosongkan hanya untuk Allah,
- Sifat-sifatmu akan diperindah, 
- engkau akan diantarkannya mendekat hingga wushul (sampai dihadirat Allah), 
- di sampaikan salam perpisahan, 
- di lepas agar menghadap sendiri kepada Dzat Yang Maha Mengatur kehidupanmu.🌾🌿🌾

🌼🌷🌼Demikian itu bukan hal yang sulit bagi Allah.🌼🌷🌼

Original Post :
https://www.facebook.com/groups/1571941206425125/permalink/3061889390763625/

Kamis, 08 Juli 2021

Tak Peduli

Untuk yang terdalam,

aku sudah tak peduli,
tak peduli atas ketidakpedulianmu
Serupa dan setara 
dengan ketidakpedulianku atas diri sendiri
Untuk apa peduli
Jika kau saja sudah tak peduli

Ditemani gerimis di bulan Juli
Asaku melangit tak tau rimbanya
Rinduku meluap seperti geiser tumpah dari perut bumi

Andai boleh berteriak di alam lepas
Akan kusebut lantang namamu didalamnya
Seiring dengan doa melambung tinggi diatas awan
Setinggi itu pula kusampaikan rindu dalam rasa

Mohon maafkan,
Maaf atas keegoisanku dalam merindukanmu
Tak tau darimana adanya
Namun susah sangat menghilangkannya
Biarlah rindu ini menggema
Menemani di kesendirian tanpa daya

"Jika ujian dari Allah itu menjadikanmu lebih mengerti tentang Hakikat Cinta, itu bukan ujian, tapi Anugerah" 
-ABI-

Surabaya, 8 Juli 2021

WALI-WALI PENYANDANG BAJU KEBESARAN ALLAH


Reboan Agung, 07 Juli 2021
.
Wali Abdur Raqīb (43)

عبد الرقيب هو الذي يرى مراقبة الله أقرب إليه من نفسه إدراكا لقيامها وذهابها في تجلي الإسم الرقيب، فلا يجاوز حدا من حدود الله تعالى، ولا أحد أشد مراعة لها منه لنفسه، ولمن يحضره من أصحابه فإنه يرقبهم بمراقبة الله تعالى

Wali abdur Raqīb adalah hamba yang berpandangan bahwa pengawasan Allah terhadap dirinya jauh lebih holistik (detail, teliti, menyeluruh dan meliputi) daripada pengawasannya sendiri sebagai refleksi dari tajalli asma Allah Ar-Raqīb (Dzat Yang Maha Mengawasi dengan Cermat). Refleksi otomatis setelah tajalli asma Allah Ar-Raqīb akan menjadikannya tidak berani melanggar batasan-batasan Allah (hudud Allah). Tiada manusia yang lebih bagus citra pengawasannya melebihi Abdur Raqīb dan terhadap orang-orang yang menghadiri majelisnya dapat mengawasinya dengan cermat karena telah merefleksikan muraqabahnya Allah.

Singkatnya Wali Abdur Raqīb adalah hamba yang telah sempurna imannya dan telah wushul dalam perjalanan kembali kepada Allah kemudian dianugerahkan kepadanya baju kebesaranNya Ar-Raqīb lantas kembali untuk berinteraksi dengan makhluk.

Maqam-maqam perjalanan seorang hamba sebagaiman dijelaskan oleh Allah dalam surat At-Taubah: 112.

التَّائِبُونَ الْعابِدُونَ الْحامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (التوبة112)

1. Maqam Taubat/ tāibūn (التَّائِبُونَ)
2. Maqam Istiqamah/Ābid (الْعابِدُونَ)
3. Maqam Taqwa/ hāmidūn (الْحامِدُونَ)
4. Maqam Ikhlas/ sāihūn (السَّائِحُونَ)
5. Maqam Sidq / rākiūn (الرَّاكِعُونَ)
6. Maqam Tuma'ninah/ sājidūn (السَّاجِدُونَ)
7. Maqam Murāqabah/āmar ma'ruf  (الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ)
8. Maqam Musyahadah/ Nāhīn (وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ)
9. Maqam Ma'rifah/ Hāfidz (وَالْحافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ)

Dalam istilah lain
- maqam 1, 2 dan 3 disebut maqam ISLAM
- maqam 4, 5 dan 6 disebut maqam IMAN
- maqam 7, 8 dan 9 disebut maqam IHSAN
Setelah menggapai maqam ma'rifat (maqamat ke-9) maka seorang hamba akan memasuki maqam IQAN.

Jika ditinjau dari ekspresi yang dijalani oleh sālik (pelaku tasawuf), disebut MUJAHADAH, MUSHABARAH, MUKABADAH dan MUKASYAFAH.

Jika di tinjau dari alam yang diduduki alam maka dinamakan NASUT, MALAKUT, JABARUT dan LAHUT.

Jika dari nur yang memancar, maka dinamakan NURANI, RAHMANI, RABBANI dan ILAHI.

Dan yang paling populer adalah istilah SYARIAT, TAREKAT, HAKIKAT dan MA'RIFAT.

Proses yang ditempuh dalam muraqabah adalah musyarathah, muhasabah, mu'atabah dan murāqabah (silakan dilihat postingan Reboan Agung, tanggal 23 Juni 2021)

Wali Abdul Mujib (44)

Wali Abdur Raqīb dan Abdul Mujib adalah sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firmanNya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah:186)

Wali Abdul Mujib adalah hamba yang telah sempurna imannya dan mampu melaksanakan dan mentaati undanganNya karena telah mampu menangkap esensi kalam Allah yang didengarnya.

Wali Abdul Washi' (45)

عبد الواسع هو الذي وسع كل شيئ فضلا وطولا، ولا يسعه شيئ لإحاطته بجميع المراتب، فلا يرى مستحقا إلا أعطاه من فضله

Wali Abdul Washi' adalah hamba Dzat Yang Maha Luas anugerahNya dan meluaskan segala sesuatu baik dimensi keutamaan ataupun jangkauannya. Tiada yang sanggup menampung keluasannya karena telah menyatu dengan keMahaluasanNya terhadap segala tingkat meliputiNya. Tiada lagi yang lebih berhak mendapatkan keluasan tersebut kecuali atas anugerah yang dikaruniakan oleh Allah.

Original Post :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=371438807739425&id=107571654126143

Kamis, 01 Juli 2021

Secuil pesan untuk diri

Jika boleh kutulis padanya...

Tak bisa untuk tidak mencintainya
Inginku pamit
Untuk tidak lagi mengganggunya
Entah mengapa air mata tak henti mengalir
Satu hal yang selalu kutanya pada diri
Mengapa air mata tak mau berhenti ketika mengingatnya

Hal apa sebenarnya yang dimilikinya
Sampai hati melekat padanya
Sungguh indah rasa yang Kau beri
Rasa cinta teramat dalam pada salah satu kekasihMu

Tak sampai hati ingin mengatakannya
Untuk berpamitan dengannya
Dengan segala rasa yang dimilikinya

Meski dia tak menganggap
Namun bagiku
Benar benar tak bisa lepas sepertinya
Hingga aku bertanya padaNya
Ada apa sebenarnya takdir yang digariskan

Mungkin ada pada ikhlas kuncinya
Ikhlas merelakan kepergiannya
Ikhlas hidup tanpanya
Ikhlas untuk terus mendoakannya meski waktu tak lagi berkompromi

-------------------
Cukup sudah kebahagiaanmu diberikan
Mulailah bangkit sedikit demi sedikit
Meski tertatih tatih
Majulah selangkah demi selangkah

Untuk bisa menyamai langkahnya
Langkah seorang kekasihNya
Bukan kekasihmu
Berlombalah menujuNya dengan sportif

"Jika berjauhan tidak menambahkanmu rasa Cinta, berarti kamu benar-benar belum Mencintai"
-ABI-

Surabaya, 1 Juli 2021

Sebongkah Harapan

Masihkan boleh memandang wajahnya
Akankah ada harapan bersua dengannya
Pertanyaan terbesarnya,
Apakah pantas berharap bertemu dengannya?

Di hari ini, esok, atau seterusnya
Entah masi bisa bersua atau tidak
Entah siapa yang akan pulang lebih dulu

Hanya harapan terbaik yang selalu melangit
Berharap tak ada cela maupun luka
Cinta tanpa syarat tanpa harap

Seiris demi seiris rasa rindu memudar
Bukan tanpa alasan
Disaat semakin memudarnya rindu
Saat itu pula melangitkan kalbu

Semoga segera lepas
Sebongkah diri rendah
Kutipan puja yang selalu terulas
Pada Guru selalu terpanjat
Semoga terdengar oleh Sang Maha
Coretan hati yang tak bertepi

Surabaya, 1 Juli 2021

Lukisan Sang Senja

Hai senja
Ada apa denganmu
Sepertinya, mendung sedang menyelimuti
Kiranya ada yang ingin kau sampaikan
Mohon sampaikanlah lewat angin yang menderu

Masihkah hidup rasamu
Kurira tidak,
Mati memang selalu menyertaimu
Risau pun malu untuk datang padamu

Tak salah pilih
Memang semestinya insan sepertimu layak...
Bahkan lebih dari layak sebagai panutan...

Sudah tak ada lagi kata yang bisa diucap
Bertemu manusia sesempurna dirimu itu sudah lebih dari cukup bagiku
Contoh konkrit seorang Abdul Karim
Salah satu Wali Allah yang tersembunyi

Tak ada cela dari ujung ke ujung
Hanya ada puja yang senantiasa menemani

Semoga kau tak keberatan menjadi senja bagiku yang hina ini
Hanya secuil daging yang tak berguna.

Di akhir surat
Selalu terpanjat
Lantunan doa pada sang senja
Semoga sinarmu megah seperti sedia kala

Apa kau tau
Ketika sudah tak ada kata yang perlu diucap
Dalam rangkaian bait tanpa makna
Disitu aku merasa hampa
Ingin sebenarnya menyapa
Namun sang senja sepertinya sedang tak bernyawa

Hanya bisikan yang selalu kubawa
Kepada langit aku mengadu
Kepada bumi aku berlutut
Semoga kasihku sampai padamu
Wahai Senja yang selalu kurindu

Surabaya, 1 Juli 2021

Selasa, 29 Juni 2021

Sepotong Awan Kelabu

dulu...
Hujan adalah senyuman bagiku
Namun tidak untuk sekarang
Hujan selalu mengingatkan akan keadaanmu
Sedang apa kau disana
Jauh memang mata memandang
Sampai tak terlihat oleh rasa

Awan kelabu menyelimuti
Senada dengan sepinya hati
Tak henti lantunan doa selalu terpanjat
Untukmu yang sedang dalam jerat

Tak terasa rasa hormat hilang
Seiring dengan kebodohan jiwa
Tak tau malu siapa yang dihadap
Sopan santun tak tampak

Mohon maafkan segala tindak tanduk 
Ucap laku yang tak patut
Padamu kami berlaku
Padamu kami berucap
Dengan rintikan air mata kami mengharap
Semoga segala salah masih bisa ditolerir

Jika memang sudah tak pantas
Doa kami akan selalu tetap
Untukmu yang takkan pernah lepas
Dari jeratan hati yang paling dalam

Surabaya, 29 Juni 2021

Terimakasih
Untuk waktu yang tak pernah kembali
Untuk hati yang selalu gigih
Untuk air mata yang setia menemani